Agustus '09
Nyawa atau Jiwa
Nyawa atau Jiwa
-

Penguasa atau Pemimpin?
"Kami memilih terancam nyawa kami dari pada terancam jiwa kami"Pidato kenegaraan Presiden SBY hari ini di depan anggota DPR dalam menyambut hari Kemerdekaan Republik Indonesia tercoreng, masalahnya ketua DPR -Agung Laksono- lupa memberikan waktu kepada yang hadir untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sungguh kesalahan fatal, lagi acara mo nyambut Kemerdekaan RI, eh lagu wajibnya lupa dinyanyikan. Ini bukan sekedar menyanyikan lagu bersama-sama, tapi selain menyanyikan lagu itu adalah protokoler dalam setiap acara kenegaraan, lagu Indonesia raya juga merupakan salah satu lambang negara. Aku jadi mikir, apakah sekarang para wakil rakyat di gedung MPR sana dah lupa pada kewajiban mereka kepada negara? nyanyi saja dah malas? ato mereka nggak bernyanyi karena toh nggak ada bedanya, nyanyi or nggak tetep ada kenaikan gajih bentar lagi, atau -ini skenario rusuh- mereka tak hapal lagunya?
Saranku ya besok-besok calon wakil rakyat itu harus bisa menyanyikan dengan benar lagu kebangsaan kita, jangan hanya jago menyanyikan lagunya artis-artis kita.
Aku jadi teringat cerita seorang ibu di zaman kekaisaran China dahulu kala -kaisarnya sapa aku lupa- si ibu itu menangisi anaknya yang baru saja meninggal, anaknya meninggal karena seekor macan baru saja menerkamnya.
Lewatlah seorang jendral yang sedang dalam perjalanan berburu, jendral itu melewati rumah si ibu yang terletak di tengah-tengah hutan, dia melihat ibu itu menangis, jendral itu mendekati si ibu dan bertanya. Si ibu menjawab: "Anakku ini anak ketiga ku yang mati diterkam harimau, dua kakaknya juga mati persis dg cara yang sama".
Si Jendral heran dan berkata: "Kenapa ibu memilih tinggal di tempat terpencil seperti ini, di tengah hutan, kenapa tidak membuat rumah di daerah kekaisaran saja, di tempat banyak orangnya, di tempat aman di mana banyak yang bisa saling jaga" -rumah si ibu itu memang berada di hutan tanpa tuan dan berada jauh dari wilayah kekaisaran China.
Si ibu menjawab: "Itulah, aku nggak mau tinggal di daerah kekaisaran karena aku benci pejabat, kaisar dan para petinggi, di sini kami bebas, tanpa kalian dan semua pengaruh kalian".
"Tapi", Si Jendral menukas, "Di sini juga Ibu tidak bebas, di kungkung oleh bahaya, si harimau itu? Ibu lebih tak nyaman di luar sini".
"Kamu nggak mengerti Jendral", Ucap si Ibu, "Kami memilih terancam nyawa kami dari pada terancam jiwa kami, kalian jangankan menjaga rakyat dan menjalankan kewajiban kepada semua orang, kewajiban kepada diri sendiri saja tak sanggup kalian lakukan. Bagaimana kalian bisa berkata bahwa masyarakat kalian aman dan tentram sedangkan Jendralnya sendiri masuk hutan dengan senjata lengkap tapi 100 orang budak yang mengiringi Jendral berpakaian layak saja tidak dan semua itu dilakukan sekedar untuk membunuh seekor kijang. Apakah itu yang namanya tentram dan aman? mengejar kesenangan sendiri dengan mengorbankan keselamatan banyak orang?"
Si Jendral terdiam.
| < Prev | Next > |
|---|
Gudang Tulisan
- ▼ 2010
- ▼ March
- ► February
- ► January
- ► 2009
- ► December
- ► November
- ► October
- ► September
- ► August
- ► July
- ► June
- ► May





